Something in you.

Malam ini entah kenapa aku sedang malas mengutak-atik baris2 kode yang terlihat di layar laptop ku.  Kemudian aku memutuskan untuk membuat secangkir kopi kesukaanku. Mungkin nikmat untukku, mengagumi hujan bersama kopi kesukaanku sore ini. Setelah kopi kesukaanku siap untuk diajak mengobrol tentang hujan sore ini, aku membawanya ke balkon apartemenku. Menikmati hujan. Berbicara santai dengan kopi.
Sejenak terlintas bayangan dia menari-nari di otakku. Melambaikan tangan seakan mengajakku ikut serta dalam tariannya. Tapi entah mengapa aku masih tidak yakin itu adalah dia. Tidak mungkin dia yang melambaikan tangan mengajakku ikut serta dalam kebahagiaannya. Yang aku tau saat ini, dia sedang marah padaku karena aku telah memecahkan pot berisi kaktus kesukaanya hadiah dari kekasihnya.
“aku sahabat yg bodoh! Emang iya aku sahabat? Bukannya aku musuhnya?”, selalu itu yang terngiang dalam otakku.
Aku merasa bersalah padanya. Aku sudah mencoba meminta maaf. Tetapi ternyata permintaan maaf ku ditolak. Sesekali memang kami terlibat dalam percakapan, tapi aku yakin dia melakukan ini karena terpaksa.
“Eh minta tolong nyalain lampunya.” Pintanya waktu itu.
“iya.” Jawabku singkat.
Sebatas itu-itu saja percakapan ku dengannya. Tidak lebih. Tidak kurang. Entah apa yg membuatnya begitu marah padaku. Apa hanya gara2 sebatang kaktus?

2 bulan berlalu, rupanya dia telah melupakan kejadian itu. Sekarang kami sudah kembali seperti biasa lagi.
“Jo, besok ikut ke toko buku yuk. Anterin cari novel.” Tanyanya padaku siang itu.
“Kenapa cewek km? Gk ama dia aja.” Jawabku sambil menikmati bakso pak Jas di kantin kampus.
“Gimana mau ngajak dia. Ini kan kado buat dia.” Jawabnya, membuat aku tersedak kuah bakso yang pweedasnya bukan main.
“bentar Jo, aku beliin minum dulu. Kasian kamu udah kayak udang panggang gosong.” Rupanya dia tidak tega lihat muka aku yg merah akibat tersedak.
Datanglah dia, dengan botol minuman sosro di tangannya.
Entahlah, sejak dulu berteman dengannya aku selalu merasa tenang. Banyak perlakuannya yang tidak terduga. Banyak perlakuannya yang sigap nolongin aku. Banyak perlakuannya yang sering bikin aku salah tingkah. Makanya waktu itu dia marah, aku khawatir banget. Aku khawatir kalo aku gk akan bisa nerima lagi perlakuaannya yg aku anggep istimewa itu.
Dia suka bikin surprise untuk ceweknya. Tapi selalu minta tolong aku buatin surprisenya. Dia suka bentukin ucapan terima kasihnya dengan hal yg tak terduga. Beberapa waktu lalu aku dapet tiket konser tompi. Karena dia tau, aku ngefans banget ama tompi.
Dia ngasih aku kado buku raditya dika. Karena dia tau, aku nggak pernah ketinggalan satu postingan pun di blog raditya dika.
Dia ngasih aku sandal japit warna coklat. Karena dia tau aku suka banget pake sendal japit kemana-mana.
Aku merasa dia yg paling ngerti aku. Aku merasa dia yang paling tau aku maunya gimana. Dia yg aku bangeet.
Tanpa sadar aku mulai jatuh cinta ama dia. Perlahan-lahan hatiku luluh sama semua perlakuannya. Hingga suatu saat disaat aku memintanya untuk tidak berteman lagi denganku. Dia malah balik memarahiku.
“Mas, kayaknya aku mau pensiun aja jadi temen kamu.” Kataku singkat padat jelas. Tapi ditangkap beda ama si Dimas.
“Waduh Jo, aku blm nyiapin pesangon buat kamu.” Kata dimas malah bikin banyolan.
“Mas, aku serius. Aku ngerasa terbebani ama semua sikap kamu ke aku.” Lanjutku, membuat dia menyimpan senyumnya dalam2.
“Aku ngapain kamu Jo? Aku salah apa ke kamu Jo?”
“Dimas, kamu nggak salah apa2. Aku yang salah. Aku yang bodoh. Aku yang nggak bisa … ” tiba-tiba airmataku jatuh.
Dimas memelukku, “kenapa kamu ngomong gitu sih Jo, kamu memangnya salah apa? Km bodoh kenapa?”
Aku berusaha menahan air mataku, “aku nggak bisa nerima semua perlakuannmu Mas, perlakuanmu terlalu baik untuk aku. Kamu ngasih ini ngasih itu. Kamu perhatian ini, ngertiin itu.”
Dimas masih bingung, “kan wajar Jo, kamu temen aku, kamu selalu bantuin aku, kamu juga selalu ngertiin aku.”
Aku makin jengkel gara2 Dimas ini roaming banget..
“Mas, kmu udah memperlakukan aku kayak pacar kamu. Aku ngerasanya gitu. Kamu bikin aku semakin jatuh cinta kalo kamu terus-terusan kayak gini in aku. Perhatiin aku. Ngasih2 hadiah ini itu ke aku. Cuma orang yg mati rasa aja Mas yg bilang kalo itu biasa.”
“Maaf Jo, kadang aku ngerasa juga gitu. Kenapa aku bisa seloyal ini ama kamu. Aku nggak pernah perhitungan ama kamu. Semua yang aku lakuin itu spontan. Aku nggak pernah merencanakan semua. Aku juga nggak pernah ada maksud bikin kamu ngerasa kayak sekarang ini.”
“Iya itu makanya Dimas, aku pengen pensiun jadi temen kamu. Aku ngerasa itu semua berlebihan dari kapasitas aku sebagai sahabat. Aku takut semakin jatuh cinta ama kamu Mas. Tapi disisi lain aku takut kehilangan sahabat terbaik kayak kamu.”
“Jo, aku pengen kamu jadi pacar aku. Mau?”
“Apa? Udah sinting kali kamu? Pacarmu itu mau dikemanain.”
“Maaf Jo, aku masih sayang ama Gadis. Tapi aku juga gk pengen kehilangan kamu.”
“Soooooo?”
“Kamu mau jadi yg kedua nggak Jo?”
“Gimana ya Mas, aku takut.”
Sambil memelukku lagi, Dimas bilang, “nggak usah takut. Selama kita nggak bilang sapa2 kita aman kok.”
“Iya aku tau resiko jadi yang kedua. Aku tau nggak enaknya jadi yg kedua. Aku tau ntar gimana nggak enaknya jadi kamu. Tapi Jo, please, mau ya.”
Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri. “Mas, kasih aku waktu untuk mikir.”

1 minggu berlalu. Aku jarang ke kampus. Aku masih diem di apartemenku memikirkan apa aku harus terima tawaran Dimas ato nggak. Sabtu ini Dimas nagih jawabannya.

Jumat ini, disaat aku masih mengagumi hujan bersama kopi kesukaanku entah untuk yang keberapa kalinya. Tiba-tiba ada yg ngetok pintu. Aku heran. Sapa malem2 gini bertamu. Nggak tau unggah ungguh banget. Aku berjalan menuju pintu dan pada detik berikutnya, aku tertegun melihat sesosok cowok yang sepertinya aku kenal.
“Jo, udah seminggu nggak ngampus. Kemana aja?” Dimas berjalan tanpa menunggu izin masuk dari si empu nya rumah.
Aku masih menatapnya berjalan masuk dan berhenti pada posisinya di sofa ruang tamu ku.
“ada di rumah.”
“kenapa nggak ngampus, Jo? Sakit? Kok nggak bilang?”
“Enngg.. enggak. Sehat.”
“jadi beneran sakit? Sakit apa? Sini aku beliin obat.”
“enggak.. maksudku, aku sehat. Aku nggak sakit.”
“Trus knapa gk ngampus?”
“nggak papa. Lagi ada proyek di luar. Makanya jarang ngampus.”
“ohh. Jangan gitu Jo. Jangan buat proyek2 itu ngalahin kuliah kamu. Trus, gimana Jo, soal tawaran ku minggu lalu.”
“Aku mau.”kataku hanya dalam hati. Tapi yang keluar malah ucapan konyol ala Jojo, “hhmm.. kan masih besok Mas, aku belum mikirin tawaran kamu Mas.” PALSUU kamu Jo. Mampus aku.
“udah nggak usah dipikirin Jo, iya aja kenapa.”
“hmm.. iya aja deh.”
“kok pake ‘deh’ Jo. Kayaknya kamu nggak ikhlas.”
“hmm.. iya..”
“Yeess. Makasih Jo.”
“Sama-sama”

Malam itu jadi terasa panjang. Aku, Dimas dan dua cangkir kopi berbincang-bincang di balkon apartemen. Sepertinya ini baru aku rasain. Sensasinya beda. Halaaahh. Opo seh.

2 bulan, 3 bulan, 4 bulan sampe hampir setengah tahun hubungan ini nggak ada yang tau. Kami seperti aktor aktris yang memerankan peran sebagai sahabat padahal di dunia nyata kami pacaran. Setiap ada yg mergokin kami. Selalu ada alasan untuk menyangkal. Sampai suatu saat, kami berdua makan di cafe kesukaan kami. Dan tnyata yg mergokin si Gadis. Tapi entah kenapa waktu itu alasan yang kami gunakan adalah kami tadi datang beramai ramai dan yang lain pada pulang jadinya tinggal berdua aja. Gadis percaya. Dan dia malah gabung bareng kami. Akhirnya aku ijin pulang duluan.
“ati2 di jalan, sayang. Maaf untuk malam ini. Nggak sengaja.” SMS yg dikirim Dimas untuk aku.
Tapi akhirnya aku nggak bales. Aku capek kucing-kucingan terus. Aku akhirnya tertidur.

1 tahun hubungan ini berjalan, yang tau nambah. Sahabat baik aku, si Sinta dan sahabat baik Dimas, si Reza. Sinta bilang aku udah gila. Reza bilang Dimas juga gila. Itu artinya kita jodoh, soalnya orang gila pacaran ama orang gila bukan sama orang waras. Ahahaha. #dungu.

Jadi yang kedua itu nggak enak. Tapi entah kenapa aku malah menikmatinya.

aku sayang kamu, Jegeg :)

Cinta monyet itu bisa jadi cinta beneran kalo yang ngerasain manusia, bukan monyet.

Aku lagi di Taman Pelangi meratapi kisah-kisah cintaku. Sepertinya aku bukan orang yang beruntung dalam dunia percintaan. Walaupun memang kuakui, nasibku sebagai pegawai bisa dibilang beruntung. Selama satu tahun aku bekerja, bonus penjualanku selalu yang tertinggi. Tapi entah mengapa ini tidak berlaku pula pada dunia percintaanku. Nahas. Hubunganku dengan Rayhan berakhir baru 30 menit yang lalu. Oke Rayhan ialah pacarku yang ke sepuluh. Dan ke sepuluhnya, entah mengapa tidak ada yang berakhir lebih dari 1 tahun. Semua berumur dibawah 1 tahun.

Malam itu juga aku memutuskan untuk cuti beberapa hari. Keesokan harinya aku mengajukan cuti ke perusahaan. Rencananya aku akan mengambil beberapa hari trip di Bali. Kota kelahiranku. Aku memang lahir di Bali tapi aku besar di Surabaya. Dan beberapa saudaraku masih ada yang tinggal di Pulau Dewata jadi aku bisa numpang tinggal di rumah mereka selama beberapa hari.

Di Pulau Dewata aku langsung menelepon saudaraku dan memintanya untuk menjemputku. Beberapa saat kemudian mereka datang. Aku langsung diboyong ke Pantai Kuta yang terkenal seantero jagad raya itu. Disana aku melihat lautan manusia bukan lautan seperti pada umumnya. Ramai sekali hari ini.

“Bli, ramai sekali hari ini? Ada acara apa Bli?” tanyaku pada saudaraku, Bli Gede namanya.

“Oh iya, lagi ada acara band-band therkenal pada manggung. Kathanya acara Earth Hour. Ada temen Bli yang lagi manggung lho.” jawabnya.

“Oh iya Bli? Tapi aku kesini lagi pengen bersantai Bli, nggak lagi pengen lihat yg ramai2 kayak gini Bli.” lanjutku.

“Ahh, sebentar aja. Bli juga udah lama nggak kethemu dia sejak Bli kembali kerja disini.” lanjut Bli Gede. Bli Gede dulu kerja di Surabaya bersama ayah. Tapi sekarang Bli Gede menghandle perwakilan cabang perusahaan ayah di Bali.

“Ya sudah Bli, aku mau beli es Sundae Blueberry dulu. Bli tunggu sini ya.” kataku sambil meninggalkan Bli Gede sendirian di pinggir pantai. Aku pun pergi menuju McD Kuta dan membeli 2 gelas es sundae Blueberry. Setelah membeli es krim aku pun kembali ke pinggir pantai. Dan melihat Bli Gede bersama seseorang lagi. sepertinya temannya. Aku segera menghampiri Bli Gede.

“Ini Bli, es krim buat Bli.” aku menyodorkan es krim yang ku bawa puntuk Bli Gede.

“Oh iya makasih ya Jegeg. ini kenalin themen Bli dari Surabaya. Namanya Mirjo, tapi karena sekarang udah therkenal namanya ganti jadi Mike.” jawab Bli dan mencoba memperkenalkanku pada Mirjo eh Mike maksudku. Aku pun menjabat tangan Mike dan mencoba menelusuri setiap centi wajahnya dengan tatapanku. Sepertinya aku kenal orang ini.

“Ya ampuuunn. Ini kak Mirjo. ketua OSIS SMP ku dulu.” pekikku dalam hati.

“O iya kenalin aku Santi. anak adik bapaknya ibuknya Bli Gede. Ruwet memang intinya kami masih saudara.” kataku sedikit grogi. Bertemu dengan orang ini seperti bertemu masa lalu ku. Kak Mirjo ini orang yang pertama kali bikin aku jatuh cinta. Sampai dia akhirnya menghilang pun aku masih suka sama dia. Dia lulus SMP dan masuk SMA di luar Surabaya. sedangkan aku waktu itu baru naik kelas 2 SMP.

“Iya aku Mike. Senang berkenalan denganmu Jegeg.” katanya membuat mukaku pasti kemerahan. tapi untung saja ini sudah agak petang sehingga pipiku yang sedang kemerahan ini tidak terlihat. syukurlah.

Kami bertiga terlibat percakapan seru tentang pekerjaan Bli Gede, kesibukan Mike (aku diperbolehkan memanggil namanya saja. Yippiee!) atau pun membicarakan tujuanku datang kesini tiba-tiba. Jam ditanganku menunjukkan pukul 22 WITA. Dan akhirnya Bli Gede mengajakku pulang.

Sampai di rumah, tiba-tiba BB ku berbunyi. Ada permintaan pertemanan melalui BBM ku. Siapa ini. aku menghiraukannya. Aku mengambil handuk dan mulai bersantai di kamar mandi. Bali memang khas. Dari baunya aku suka jika aku datang ke Bali. Bau-bau dupa seakan tidak terasa mistis disini. aku malah menikmatinya. Coba bau dupa ini di Surabaya. Tapi rasanya pasti nakutin.

Keluar dari kamar mandi kulihat HP ku lagi. Ada Telepon dan SMS. Dari nomer yang sama. Dan di SMSnya terlihat kalimat singkat tapi membuat aku bertanya2.

Aku berharap ada sunset-sunset bersama lain kali, Jegeg. Regards, Mike.
NB : Tapi sebelumnya aku berharap kamu menerima permintaan pertemanan BBM ku terlebih dahulu. :)

Ohh dari Mike. Pertemanan BBM? Jangan2 tadi? Mike? Ahh, apa iya? Aku mencoba membuka aplikasi BBM ku dan menekan Accept. Beberapa menit kemudian, ada chat yang berisi simbol senyuman muncul dari kontak tersebut.

Siapa ini? Send. Delivered. Read.
Ini patner melihat sunset sore ini selain Gede. *smiling*

Ohh ya? Mike? Dapat darimana PIN dan nomer handphoneku? Send. Delivered. Read.
Percuma namanya Gede, kalo gak bisa jawab pertanyaanku soal kontakmu, Jegeg. *smiling*

Ohh dasar Bli Gede, bagi-bagi kontak sembarangan. Untung ke tangan yang bener kalo nggak, diteror aku bisa-bisa. Send. Delivered. Read.
Ahahahhaa, kamu pikir aku pelaku Bom BALI III?? tenang, informasimu jatuh ketangan yang tepat. *smiling*

Iya, kali aja tau aku di BALI, terus merencanakan ngebom di BALI lagi. Send. Delivered. Read. *aku sadar kalo gk nyambung
Ahahaha, kamu pikir kamu Presiden. pake teror macam begitu. *smiling*

Bukan. :( Send. Delivered. Read.
Ahahhaa. Okeoke. Oh iya, aku masih di Bali sampe minggu depan. Kamu sibuk??

Nggak. Kenapa? Send. Delivered. Read.
Temenin aku jalan2?? Bersedia??

Kemana? Aku nggak tau jalan. Send. Delivered. Read.
Nggak papa. Aku tau. Tenang aja.

Oke. Boleh. Send. Delivered. Read.
Oke besok siap2 ya. Jam 5 pagi. aku jemput ke rumah Gede.

Haah? ngapain pagi2? toko2 juga pada belum buka kali. Send. Delivered. Read.
Sapa yg mau ngajakin ke toko? Udah pokoknya besok kudu siap waktu aku jemput.

Aduuh gk bisa agak siangan apa. Send. Delivered.
*kok belum di read?

Karena capek seharian, aku udah males mikir perkataan Mike. Aku langsung tertidur pulas pada menit berikutnya. Keesokan harinya, pintu kamarku diketok2 sama Bli Gede. Entah ada apa, pagi2 buta begini dia seperti orang kebakaran jenggot mengetuk dengan cara bar-bar. Seperti orang mau makan orang. -.-’
Kubuka pintu, ooooohhh My God..

“Ngapain??” Aku terkejut karena bukan Bli Gede seperti tebakanku.
“Gimana sih, kan aku udah bilang, jam 5 pagi” jawabnya.
“Mau kemana sih?” tanyaku sebal, karena tidurku terasa masih beberapa menit saja.
“Udah ikut aja, sana cuci muka, gk usah pake mandi!” ketusnya.
Kemudian dia mendorongku untuk masuk ke kamar mandi. dan aku melototinya.
Sadar dia tidak diinginkan berada diruangan ini, dia pun pergi ke ruang tamu. dan aku melakukan ritual cucimuka yang kusut ini. Selesai bersih diri, aku keluar dan menemui si Mike. Mengapa dia tampak bersemangat sekali. Padahal ayam-ayam disini saja sepertinya masih tertidur pulas.

20 menit kemudian, sampailah kami di Pantai Sanur. Pantai yang diandalkan karena pemandangan matahari terbitnya. Aku menemaninya mengambil beberapa gambar dari Kamera DSLRnya. hmmm, suka motret juga nih orang. Setelah beberapa menit mengagumi keindahan makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini, aku mulai memusatkan perhatianku pada matahari yang mulai sedikit demi sedikit menyapa dari balik awan. Aku tau Pantai Sanur itu pantai matahari terbit, tapi aku nggak pernah lihat gimana matahari terbit di Sanur. Ternyata seperti ini. Indah banget. Tuhan kalo ngasih keindahan memang nggak pernah setengah-setengah. Kayakk makhluk ciptaannya yang lagi motret di sebelah aku ini, pinter motret, pinter ngeband, pinter ngrayu lagi. ahahahahhaa.

“Kenapa senyam senyum sendiri?” tanyanya tiba-tiba.
“ahh enggak.” jawabku.
“kenapa?” desaknya.
“ahahaha, nggak aku cuma inget sama yg di Surabaya.” jawabku.
“Ohh, kamu udah punya pacar? di Surabaya?” tanyanya.
Kok, ngomongin ini? “iya udah, tapi beberapa hari yg lalu. Sehari sebelum berangkat ke Bali aku putus.”
“Oh. syukur deh.”
“Kok syukurrr?? ada orang putus kok malah di sukurin?”
“ahahaha. bukan itu maksudku. Ah, udah deh. Cari sarapan yuk.” Tiba-tiba tanganku ditarik dan digandeng meninggalkan matahari yang sudah bersinar terang.

Kami pergi menuju sebuah kedai bubur ayam di depan lapangan Puputan. Enak banget bubur ayam ini. Ada kayak kuah sotonya. Sambelnya apalagi, maknyuush abiss. FYI, aku suka sambel. suka banget malah. :)))
Setelah selesai sarapan, aku diantar Mike pulang. dan Bli Gede hanya tersenyum melihat kami berdua baru pulang.

“Ntar aku jemput ya, Jam 3 sore. Disini. Jangan kayak tadi.” katanya dari dalam mobil. Dan langsung melajukan mobilnya segera setelah mengklakson Bli Gede.
“Cepet banget tuh orang.” kata Bli Gede.
“Kenapa Bli? Apanya yg cepet?” tanyaku penasaran.
Sambil mengacak2 rambutku yg memang sudah acakadul, “aahh nggak, nyetirnya dia cepet bangeet.” kemudian Bli Gede masuk rumah meneruskan pekerjaannya.

Aku tidak meneruskan tidurku, tetapi aku ingin berkeliling di daerah sekitar sini. Kerumah saudara-saudara. Tapi sepertinya ini masih sangat terik. Bisa-bisa kulitku gosong disini. Nanti aja sore. ooh, Mike akan menjemputku jam 3. Aku bisa pergi berjalan-jalan sebentar sebelum jam 3. Yippiiee!
Aku mengunjungi beberapa saudara. Dari Bi’ Nyoman, Uwo Ketut, Pekak Dadong semua aku kunjungin. Aku lupa kalo jam 3 Mike menungguku. Ini udah pukul 4 sore, dan aku lupa membawa BB ku. Aku segera pulang, dan ternyata Mike telah menungguku. sepertinya sudah lama.

“Maaf. Aku lupa… aku…” kataku segera dipotong Mike.
“Kemana? Nggak bawa hape?” tanyanya.
“Iya tadi pengen kerumah sodara-sodara trus lupa BB lagi di chas di kamar” jawabku.
“Ya udah sana buruan mandi. Ntar ketinggalan acaranya.” suruhnya padaku.
Mukanya menyebalkan, menurutku. “Acara apa?”
“Ntar juga tau sendiri”
Aku sudah malas memperpanjang kata lagi, karena sudah dua kali janjian pergi aku malah lupa-lupa. Sepertinya dia marah. Mukanya menyebalkan sekali kali ini. Huuft.

“Aku siaaaappp!” aku melihatnya tersenyum. Sepertinya sudah tidak marah lagi. Yes. aku berhasil. Aku sengaja berdandan yg sedikit cantik sore ini. Rupanya dia tersihir oleh kecantikanku. Hohohohohoh. Ngarep!

Mobil kami melaju menuju selatan. Sampai di GWK. Aku heran. Ngapain kesini. Cuma lihat patung doang nih. Aduh, aku lupa bilang. Aku agak males diajak dateng ke tempat2 patung, lukisan, pokoknya yg diem2 gini.
“Ngapain kesini?” wajahku tiba-tiba berubah badmood.
“Lihat patung. Kenapa? Kok wajahnya ditekuk-tekuk gitu?” tanyanya.
“Aku gk suka patung, aku gk suka lukisan. Benda2 yg diem2 gini gk suka.” jawabku.
“Oh. Maaf. Aku nggak tau. Tunggu bentar lagi ya. Ada acara tari-tari baguus banget.”
“Oh iya, tari apa? dimana? Ini baru aku suka!”
“Tari kecak ama barong biasanya.” jawabnya sambil menggandeng tanganku.
aku terkejut. tapi suka. :”) “hmm, iya deh boleh. Mik, kamu kok tau banget daerah sini? acara disini.”
“aku tiap tahun kesini dan selalu ada wilayah baru yang aku datengin kesini.”
“Oh, tiap tahun aku juga kesini. tapi nggak kemana2. Bli Gede sibuk.”
“Wajaar, usahanya kan lagi berkembang.”
Tak terasa kami sampai dipelataran atas GWK. sambil melihat sunset. dan menunggu acara tari-tarian.
“Sunsetnya indah. Meskipun nggak dipantai.” melihat Mike tersenyum. Jadi tambah suka. Karena lagi gk nyebelin mukanya. Heran, kok bisa dia berubah-ubah kayak bunglon dalam waktu sekejap ya.

“Jegeg, ayo lihat tari kecak.” tariknya lagi.
dan kami sudah berpindah ke Amphitheatre. Menunggu acara tari kecak.
Wow.
Fantastic.
Wonderful.
Mengisahkan kisah Rama dan Shinta serta patih Anoman yang tunduk pada perintah Rama dan perjuangannya menolong Shinta dari buto jelek jahat itu. Ada fire dance, yang ditampilkan apik banget sama orang-orang ini. Kenapa aku baru menyadarai ini. ada pertunjukkan sebagus ini di sini. di penutup acara ada tari-tarian yang ditampilkan oleh beberapa anak2 yang memeiliki keterbatasan mendengar. mereka tuli. tapi harmonisasinya dapet. ntah bagaimana mereka belajar. hasilnya bagus bangeet. :”)

“Makasih ya, Mik, bagus banget.”
“Sama-sama.”

Selesai acara tadi, kami berencana pulang. tapi ternyata Mike mengajakku untuk mampir ke Jimbaran. untuk makan malam sejenak. Indahnya pantai jimbaran memang tak terlihat tapi angin sepoi-sepoi dan suara deru ombak bener2 menenangkan jiwa. Wow. ada orang seromantis ini. Tapi kok bisa-bisanya kadang-kadang nyebelin ya orang ini.

Sampai dirumah, aku mengucapkan makasih untuk yang kesekian kalinya. karena memang dia pantas mendapatkannya. dia telah melakukan hal-hal diluar dugaanku. dia membuatku seperti Kate Middleton, walaupun dia bukan Pangeran Williams. *Ooh perumpamaan dungu.

Makasih hari ini. Aku serasa Kate Middleton. Send. Delivered. Beberapa menit kemudian baru Read.
aahahha. tapi sayang, aku bukan Williams. *smiling*

Its Oke. kan masih seperti. Aku juga aslinya bukan Middleton. Send. Delivered. Read.

Oh iya, besok lusa aku ajak ke Lovina, beberapa hari. Siapin baju beberapa potong ya. *smiling*
Lovina? Pantai Lovina? Mauu bangeet. berenang ama lumba-lumba! Send. Delivered. Read.
Makanya siapin baju yang banyak. Biar bisa setiap hari renang ama lumba-lumba.
Siaaappp boss! Send. Delivered. Read.

Pagi itu pukul 09 WITA, dan Mike sudah bertengger di depan rumah dan sedang bercakap2 dengan Bli Gede.
“Bli, gak ikut?” tanyaku.
“Nggak, Bli lagi ada kerjaan ke Lombok nanthi sore harus berangkath.”
“Ahh Lombok? ikuutt Bli.”
“Ini urusan kerjaan, besok lusa juga udah balik ke Denpasar. Kamu athi2 ya di jalan. Mike, jagain adikku ya.”
“Kamu kayak nggak tau aku aja. Pinjam adikmu bentar ya.”
“Kamu pikir adekku boneka dinjam2.”
“Ahahahhaa” kami bertiga tertawa bersama-sama.

Perjalanan menghabiskan waktu seharian penuh. Sampai disana sore hari, dan kami pun mengambil jatah istirahat sebelum makan malam di kamar kami masing-masing. Kadang aku ke-GR-an, kalo inget2 perlakuan Mike ke aku. Tapi gk mungkin juga. Mike punya pacar belum ya, Mike ada yg disukain nggak ya, Mike suka beneran nggak ya ma aku.

Huuftt. Kadang capek berspekulasi tentang perasaan orang lain terhadap kita. Tapi mau gimana lagi. Memang ini adanya. Nggak mungkin aku ngomong ke Mike kalo aku suka dia. Kita baru beberapa hari ketemuan.
Biipp.. Biiipp..
BB ku bunyi-bunyi..

Ayo makan. *smilling*
Udah waktunya makan ya. Nggak sadar. Ayo. Send. Delivered. Read.
Ngelamun aja sih ah. sampe nggak sadar waktunya makan. *smiling*
Kok tau? Send. Delivered. Read.
Iya aku liatin dari sini dari tadi. *smiling*

Ternyata ada tirai sebelah yang belum aku tutup.
Ada orang dibaliknya, tersenyum sambil melambai-lambai.
Ahh, ketauan. sial.

Makan malam kali ini istimewa banget. Bahkan lebih istimewa dari Jimbaran.
Makan malam pinggir pantai yang sunyi ini. Gk rame kayak Jimbaran.
Yang kedengaran cuma suara musik ama deru ombak sesekali.
Ternyata Mike nyewa pengamen situ untuk menghibur kami malam ini.
Dihiasi mawar putih di meja, sama lilin yang terangnya gk seberapa.
Romantis banget. Aduh, orang ini ya. bikin melting.

“Ini sepi gini, gk ada yg nyewa apa disini?” tanyaku
“Ya ada, tapi emang lagi sepi. kan nggak lagi weekend.” jawabnya.

Makanannya datang. Cumi-cumi asam manis kesukaanku. Huwaaa. Kenapa dia gini banget ya..
Cumi-cuminya aja kalo masih idup, pas belum dimasak, iri kali ya, liatin kami berdua.

Tiba-tiba, dia berdiri dan membisikkan sesuatu ke pengamen tersebut. Tiba-tiba..

This is it, oh I finally found someone
Someone to share my life
I finally found the one
To be with every night
'Cause whatever I do
It's just got to be you
My life has just begun
I finally found someone

Finally found someone punya Om Bryan Adams ini bergema di telinga. Ini juga lagu kesukaan aku banget. Aduuhh ada apa ini.

“Mik, kalo kamu baik terus kayak gini, lama-lama aku bisa jatuh cinta sama kamu.” kataku
“Ahahahhahaa. Sengaja! Aku emang sengaja buat kamu jatuh cinta ama aku detik itu juga. detik aku kenalan ama kamu.”
“Hah? Serius?”
“Menurutmu? Aku serius nggak? Bela-belain bangun pagi ngajak liat sunrise. Bela-belain nunggu kamu satu jam yang kamu ntah kemana di BBM nggak bales-bales. Bela-belain bawa kamu kesini. Bela-belain bikin malem se aduhai ini.”
Tiba-tiba aku menitihkan air mata. aku bahagia, tapi aku menangis. Menangis bahagia karenanya. Kemudian aku berlari ke pelukan Mike. Mike juga menyambut dengan pelukan yang lebih erat lagi. Dan tiba-tiba..
doorr,, dooorrr.. sreeeeenggg doorrr…
Aku melihat banyak kembang api di langit. Banyak warna di langit yang hitam gelap. Waah aku suka kembang api. Waaaahhh aku suka malem ini. Aku suka Mike yang membuat malem ini begitu indaaahhh :”)

Di sofa kamarku, sambil melihat TV,, Mike akhirnya tertidur dengan kepala di pangkuanku.
Ahh, mungkin dia capek. Telah menyiapkan hari ini. Sedangkan aku masih saja mengingat-ngingat bagaimana aku jatuh cinta pada Mike pertama kali. Saat dia masih menjadi Ketua OSIS dan akhirnya sekarang kami dipertemukan kembali di pertemuan yang tidak terduga.

Aku tau Mik tidur, biar saja aku mengatakan semua, “Mik, tau nggak, kamu itu cinta monyet pertama aku. Waktu kamu jadi ketua OSIS SMP itu sejak pertama aku suka kamu. Tapi kamu pasti nggak tau aku. Aku kan cuma murid baru waktu itu.” Kataku sambil membelai-belai rambutnya.
“Dan sekarang aku nggak nyangka, aku cinta beneran sama kamu Mik. Semoga kamu memang yang terakhir. yang ke-11. yang nomer 1 dari 1, Mik.” Aku mengecup keningnya lembut. Dan ternyata Mik hanya berpura-pura tidur. Dan dia membalas dengan mengecup bibirku lembut.

“Miiiiiikkkkkkk, boongan ya tidurnya!!!!! Aaaarrgghhh….”

Mahesa-ku!

“Sa, kalo gede nanti kamu pengen jadi apa?”

Mahesa, teman sepermainanku sejak kelas 4 SD. Ayahnya memberi kan nama yang indah untuknya, Maheswara Ganendra Subyakto. Tuhan juga kasih paket lengkap pada Mahesa. Teman-teman satu kelas senang bermain dengannya karena dia suka berbagi bekal makannya. Ayah ibuku juga suka jika di rumah kedatangan Mahesa, kata mereka Mahesa ganteng. Untuk seumuran ku waktu itu, aku belum tau sebenarnya, apa arti “ganteng” yang dibilang ayah dan ibu. Tapi waktu itu aku percaya pada apa saja yang dikatakan mereka.

“Ama, aku pengen kayak ayah. Bisa menerbangkan pesawat sendiri. Tapi aku tidak ingin sepenuhnya kayak ayah. Aku jarang bertemu ayah. Ayah jarang dirumah. Kasian ibu.” kata Mahesa saat kami berdua menunggu angkot yang sama di depan gerbang SMP untuk kembali pulang. Aku tiba-tiba seperti dapat merasakan apa yang Mahesa rasakan. Wajahnya berubah ketika ia bercerita tentang ayahnya padahal ia sangat ceria ketika ia bercerita tentang cita-citanya. Aku ingin melakukan sesuatu untuk Mahesa.

meninggalkan tahun ajaran 2002/2003…

“Ama, aku besok harus pergi. Pergi jauh. Mungkin kita akan lama tak bertemu.” kata Mahesa saat kelulusan kami di SMP. Ekspresi wajah yang sama sewaktu dia bercerita tentang ayahnya yang jarang mengunjunginya.

“Kamu mau kemana, Sa?” tanyaku.

“Kami sekeluarga harus pindah ke Singapore. Karena ayahku sekarang menerbangkan pesawat internasional .” jawab Mahesa.

Aku sedih. Entah kenapa. Saat itu aku hanya bisa diam melihatnya. Tanpa bisa berkata apa-apa. Tanpa mengucapkan salam perpisahan. Aku seperti tidak rela kehilangan teman kecilku, Mahesa. Aku sudah terlanjur sedih. Sedihku bertambah ketika ternyata ibu juga mengiyakan pernyataan Mahesa tadi. Sepulang acara kelulusan waktu itu, aku menanyakan pada ibu. Ternyata ibu sudah mengetahui rencana kepindahan Oom Atok sekeluarga, tapi ibu merahasiakannya dariku. Saat itu, aku kehilangan Mahesa. Mahesa yang baik, suka berbagi bekal makannya. Mahesa yang kata ibu ganteng walaupun hingga saat kelulusan itu aku juga tidak tau atas dasar apa ibu bilang Mahesa ganteng. Mahesa yang selalu menolongku mengerjakan PR matematika dari Ibu Masning yang bagiku itu sangat sulit, tapi bagi Mahesa itu perkara mudah. Mahesa yang selalu mengambil satu langkah di depanku saat menyebrang di depan SMP atau di depan perumahan. Mahesa yang tetap saja sedih saat bercerita tentang ayahnya. Mahesa yang  seperti arti kata namanya, Maheswara Ganendra, si Raja Besar Pasukan Langit.

Akhir tahun 2010..

Aku sekarang seorang mahasiswi di salah satu universitas bukan negeri di Jakarta. Aku mengambil jurusan Akuntansi. Entah kenapa aku berada di jurusan ini. Padahal aku dulu tidak menyukai matematika. Aku seperti alergi dengan angka-angka. Tapi aku masih tetap hidup aman sejahtera hingga tingkat akhir disini. Aku malah berhasil mewakili universitas ku untuk mengikuti salah satu perlombaan di Singapore beberapa bulan ke depan tapi tidak di bidang per-angka-an. Ahh, Singapore. Aku jadi ingat Mahesa.Apa kabarnya temanku yang satu itu. Sudah lama aku tak mengontak dia. Terakhir kami saling mencari sewaktu kami lulus dari SMA. Dia bilang dia mendapat beasiswa untuk sekolah penerbang di Singapore, dan seperti dugaanku dia pun heran ketika aku bilang aku akan mengambil jurusan Akuntansi. Dia masih mengingat kebiasaanku sewaktu SMP. Selama 3 tahun aku tidak pernah lepas dari “bimbingan” dia selama mengerjakan PR matematika. Setiap ada PR matematika aku selalu berlari kerumahnya dan memaksanya untuk “membimbingku” dalam mengerjakan PR. Pernah sekali waktu kami lagi marahan, tapi kami pasti berbaikan kembali saat PR matematika hadir di tengah2 kami. Mahesa tidak pernah meninggalkanku tersesat dalam angka-angka. Mahesa anak yang baik.

Aku mencoba menghubunginya kembali. Mahesa si anak baik. Tapi ternyata tidak bisa. Aku mencoba menghubungi setiap kontak yang aku miliki. Bahkan email. Tapi tak ada balasan. Mahesa hilang. Maksudku, aku kehilangan kontak Mahesa. Bagaimana kabar Mahesa-ku?

Perlombaan semakin dekat. Aku tidak lagi fokus pada kontak Mahesa. Aku fokus pada latihan ku. Bahkan universitas khusus mendatangkan pelatih dari luar. Namanya Sensei Mahesa. Mahesa lagi-lagi. Tapi yang ini Mahesa dari Mahesa bukan Mahesa dari Maheswara. Aku percaya hanya ada satu Mahesa dari Maheswara yaitu Mahesa-ku. Akhir-akhir ini aku sering menyebutnya dengan Mahesa-ku karena pacar sahabatku juga bernama Mahesa anak fakultas lain. Entah berapa banyak lagi orang tua yang menamai anaknya dengan nama Mahesa. *kenapa jadi ceritanya fokus ke Mahesa???

Minggu depan aku akan mulai perlombaan di Singapore. Tetapi akhir minggu ini aku sudah harus berada disana untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan perlombaan di sana. *terdengar aku seperti bunglon.

di Bandara International Soekarno Hatta…

Ketika aku sedang menunggu ayah menurunkan barang-barangku, aku melihat sesosok manusia tinggi yang terlihat mirip dengan Mahesa-ku. Hasrat untuk meneriakkan nama Mahesa semakin kuat ketika saat itu aku yakin dengan apa yang aku lihat. Itu Mahesa-ku. Mahesa si anak baik. Tapi tiba-tiba aku membatalkan niat memanggilnya, saat ku tau ada seseorang yang begitu mesra menggandeng tangannya sambil berjalan menuju mobil yang sepertinya sedang menunggunya. Aku melihatnya tanpa berkedip. Aku takut sewaktu aku berkedip Mahesa akan hilang dari pandanganku. Tapi entah kenapa yang keluar malah air mataku. Buru-buru aku mengusap air mataku ketika aku menyadari ayah sudah berada disampingku mengamatiku.

“Kenapa yah?” tanyaku sambil mengusap dengan syal yang ku gunakan saat itu.

“Mengapa kau menangis, Nak?” tanya ayah yang ternyata sudah lama mengawasiku.

“Tidak yah, aku pasti akan sedih jika harus berpisah dengan ayah ibu. Aku kan tidak pernah jauh dari kalian.” kataku mencoba untuk mengalihkan perhatianku dari Mahesa ke ayah.

“Ahh. kamu! Malu sama umur. Masa udah segede ini nangis cuma gara2 gk ketemu ayah ibu seminggu aja!” ayah mengusap-usap kepalaku. Aku tenang kembali. Aku memeluk ayah erat.

“Ahh, ayah ini. Nggak seru dong perpisahan gini kalo Ama nggak nangis. Nanti Ama dibilang  gak sayang ayah. Nanti Ama dibilang anak durhaka, pisah dari ayah malah kegirangan.” kataku masih dalam pelukan ayah.

“Hahahahaha. ada ada saja kamu Ama. Ternyata kamu masih gadis kecil ayah yang dulu. Nggak berubah meskipun jaman berubah.” kata ayah menggodaku.

Sambil melepaskan pelukanku ke ayah, “Ayah kira, Ama ini situs purbakala. Jadul gitu? Huft!”

Adegan perpisahan dengan ayah harus diakhiri, ketika aku menyadari ternyata waktu untuk check in tinggal 30 menit. Aku mempersiapkan diri untuk meninggalkan Jakarta. Setelah check-in aku menunggu, sambil berpikir keras. Siapa yang sedang bersama Mahesa-ku. Beraninya dia meminjam Mahesa-ku tanpa seijinku. Awas saja jika Mahesa-ku tidak kembali. Sejak lulus SMA sebenarnya aku sudah memiliki perasaan kepada Mahesa. Tapi aku tidak berani mengatakannya yang sebenarnya pada Mahesa. Aku ingin Mahesa menjadi Pahlawan Matematika bagi anak-anakku kelak. Karena aku tau, aku bodoh kurang beruntung di Matematika dan dia amat sangat memiliki keberuntungan pada Matematika. Tapi apa mau dikata. Sekarang aku kehilangan kontak dengannya. Aku tidak tahu dia dimana. Aku tidak tahu dia sekarang apakah masih single atau bahkan sudah berkeluarga. Aku merasa kasian pada diriku sendiri.

di Bandara Internasional Changi…

Aku sepertinya mengenal sosok itu. Itu Oom Atok. Iya itu Oom Atok!! Kemudian aku berlari menghampirinya.

“Oom Atok??” tanyaku.

“Iya, saya. Who are you?” tanyanya.

Aku tidak yakin dia lupa siapa aku, tapi aku coba menyegarkan kembali ingatannya. “Ini Ama, yang suka lari-lari ke tempat Oom waktu kecil. Ngerengek-rengek ke Mahesa minta diisiin PR matematikanya. Ingat gk Oom?”

Aku yakin kali ini dia ingat, “AAAhaaaa. Ama! Apa kabar kamu, sayang? Lagi apa ini di Singapore? Udah lama kita gk ketemu!” sambil memelukku sebentar, kemudian ia berkata, “Apa kabar ayah ibu mu?”

“Ayah ibu sehat Oom. Ama lagi ada perlombaan di Singapore Oom. Selama seminggu. Mahesa apa kabar Oom?” tanyaku penasaran.

“Ayo main-main kerumah. Mahesa lagi ada dirumah..” ajak Oom Atok.

Aku kemudian berpikir keras. Kalo bukan Mahesa yang aku temui waktu itu di CGK, terus siapa?Apa ada dua orang yang sangat mirip di dunia ini?? Apa aku harus ikut Oom Atok untuk membuktikan Mahesa benar2 ada di rumah atau tidak. Sepertinya iya. Aku harus buktikan sendiri. Toh, besok aku belum ada acara apa2. Tapi aku harus bergabung dengan tim yang lain. bagaimana ini??

“Oom, Ama boleh minta alamatnya aja? Ama harus briefing dulu di home stay Ama sama tim lain Oom. Nanti kalau udah briefing Ama main ketempat Oom.” pintaku pada Oom Atok. Oom Atok memberi kan ku alamat lengkap rumahnya padaku. Kemudian dia pamit duluan.

Seusai briefing, aku mencari-cari cara untuk sampai di tempat Oom Atok. Aku memutuskan naik taksi dan akhirnya setelah 20 menit mencari-cari alamat Oom Atok, sampai lah saya di rumahnya yang sederhana tapi terlihat nyaman. Kuketuk pintu rumah ini. Kemudian ada seorang pemuda yang membukakan pintu. Pemuda ini terlihat sakit. Sekilas terlihat matanya cekung. Badannya kurus. Terlihat sedikit botak dari balik topinya yang dikenakan.

“Apa benar ini rumah keluarga Subyakto?” tanyaku pada pemuda itu.

“Iya benar.” jawabnya singkat sambil menggerak-gerakkan topinya menutupi mukanya.

“Oom Atok ada?” tanyaku lagi.

“Ada. Silakan masuk. Silakan duduk.” jawabnya masih singkat. Dan aku masih berusaha mengenali pemuda ini. Seingatku Mahesa tidak mempunyai kakak laki-laki. Adeknya saja perempuan. Lantas, siapa laki-laki ini?

Sambil menunggu Oom Atok, aku melihat sekeliling. Melihat beberapa foto yang terpajang disana. Melihat foto2 Mahesa-ku disana. Terpajang gagah di sudut tembok. Itu sepertinya foto Mahesa SMA, itu foto yang sama sewaktu dia kirim ke Indonesia. Kemudian tiba-tiba..

“Ama, sudah ketemu Mahesa ya?” tanya Oom Atok.

“Belum Oom. Mana Mahesa? Aku merindukan pahlawan Matematika-ku Oom.” kami berdua sama-sama terbahak.

“Lho tadi bukannya dia bukakan pintu untukmu? Oom lagi mandi dan tante sedang sibuk di dapur sedangkan Prita, masih sekolah belum pulang. Dan kami disini tidak memiliki pembantu.”terang si Oom.

” Ohh.. :| ” aku mencoba berkata pada hatiku sendiri, “jangan-jangan pemuda sakit look alike tadi Mahesa.”

“Sebentar, Oom panggilkan.” Oom menghilang. Dan tiba-tiba Oom datang dengan pemuda tadi.

Aku tak menyangka. Mahesa sang pahlawan Matematikaku sekarang tidak segagah dulu. Dia seperti superhero yang menolong teman-teman yang kesulitan Matematika. Tapi yang aku lihat sekarang lebih seperti penjahat yang harus di tumpas superhero macam Mahesa dulu.

Hari itu, aku mengetahui fakta bahwa Mahesa mengidap kanker. Kankernya sudah menyerang tubuh Mahesa secara membabi buta. Sehingga Mahesa tampak tidak berdaya atas serangan kanker tersebut. Sudah banyak upaya yang dilakukan keluarga Subyakto untuk mengobati kanker Mahesa. Tapi sekarang, kata Mahesa, Dokter yang menangani Mahesa sudah angkat tangan. Mahesa tinggal menunggu waktu. Aku ingin tidak mempercayai kata-kata Mahesa saat itu juga. Tapi kenyataan berkata seperti itu. Aku tidak berdaya. Aku tidak berdaya pada diriku sendiri. Aku lemah dengan perasaan ku pada Mahesa. Dulu aku memintaTuhan untuk menjadikan Mahesa pahlawan Matematika anak-anakku. Sekarang pun aku akan melakukan itu.

“Ya Tuhan, berikan Mahesa tambahan waktu.”

Aku meminta Mahesa untuk menjadi pahlawan Matematika anak-anakku. Awalnya dia menolak. Karena dia tau, hidupnya tidak lama lagi. Tapi setelah aku membujuknya, Mahesa setuju. Mahesa menikahiku. Tapi Tuhan ternyata tidak mengabulkan apa yang aku ingikan. Sesaat setelah anak pertama kami lahir, Mahesa anfaal. Dia pun dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Aku tidak bisa mendampinginnya. Aku hanya bisa memohon pada Tuhan untuk membiarkan Mahesa mengajari anaknya ini Matematika. Agar bukan aku yang mengajari Mahesa junior tentang Matematika. Aku terus memohon pada Tuhan. Aku tidak berhenti memohon malam itu. Aku bener2 memohon kepada Tuhan dalam tangisku. Tangisku yang tidak seharusnya karena kami baru saja dikaruniai seorang bayi laki-laki yang mungil. Tapi Tuhan rupanya tidak mendengar permohonanku. Aku dibiarkan mengajari Mahesa Natha Subyakto sendirian, tanpa ada Maheswara Ganendra Subyakto disisiku.