Papaku sayang, mengkhawatirkanku.. :3

Yaaaa alih-alih bikin bahasa yang nggak sarkas malah bikin bahasa yg alay gini buat judul postingan ini. Hehehhe.

Jadi ini cerita tentang papaku (kemaren kan udah, seri tentang mama) papaku ini orang nya keraaaaaas banget. Batu aja kalah kerasnya. (eh gk taunya nurun ke anaknya)

Jadi kemaren papaku marahi mamaku. (terus hubungannya ama kamu apa jenk? Bentar. Belum sampe bagian akunya)

Isi marahannya ini karena anaknya ini kelihatan suka main aja. Anaknya ini kayaknya gk ada niat buat garap skripshitnya.

Beliau menganggap anaknya ini nggak punya jiwa kompetisi sama sekali.

Beliau menganggap anaknya ini nggak berjuang buat skripshitnya.

Beliau ini menganggap anaknya ini lebih mementingkan pergi-pergi daripada garap skripshitnya.

Beliau menganggap anaknya ini suka ngehabisin waktu buat hangout, kongkow, nongkrong apalah itu macam2 namanya.

Beliau menganggap anaknya ini nggak serius lah intinya.

Oke siapa sih anak ini? (Bagian kamunya mana jenk? Lho ya ini bagian akunya. Anak ini tuh ya aku) #kemudianhening

Iya. Ini anak yang nggak tau diri itu aku.

Suka main. Suka travelling.

Ini aku yg belum lulus tepat waktu 4 tahun.

Ini aku yg lagi nunda 1 semester untuk sebuah keputusan bejat dlm hidupnya.

Percayalah. Yakinilah dengan keyakinan tak bertapi.
Bahwa berjuang dan akhirnya kalah itu akan tidak membuat menyesal daripada belum berjuang sama sekali tapi udah bilang kalah.

Tapi kadang pernyataan pertanyaan papa itu pengen ta sanggah. Pengen ta balik. Pengen ta bantah. Tapi aku nggak punya daya dan keberanian untuk itu semua.

Papa : Kenapa waktu itu km nggak maju aja? Toh kalo TA mu dapet jelek kmu kalo cari kerja nggak bakalan ditanyain tentang TAmu.

Aku : iya. (dalam hati, sama aja, apa kalo aku lulus 4,5 tahun trus aku juga nista gitu sampe nggak bakal dapet kerjaan. Sante aja kenapa sih pa. Senista itu kah lulus 4,5 tahun itu. Sampe papa nggak bisa terima. Mungkin sampe detik aku menulis ini. Entah sampe detik aku diwisuda mungkin papa nggak bakal terima aku lulus 4,5 thun.)

Papa : Kamu dulu kenapa ambil topik yang susah2. Kenapa nggak ambil yang gampang pokonya bisa cepet lulus.

Aku : iya. (dalam hati, aku juga ngiranya ini bakal jadi jalan ku termudah yg bakal aku lewati pa dibanding aku ambil jalan lain. Tapi ternyata aku salah. Aku nggak ukur kemampuanku dulu waktu itu.)

Papa : kamu itu, maen aja. Nggak dikerjakan skripsinya. Kamu itu nggak ada jiwa kompetisinya.

Aku : iya. (dalam hati, papa sadar nggak aku habis gini masuk jenjang apa? Kerja pa. Kerjaaa. Papa tau kan kalo kerja ikut kompeni itu liburnya susah. Aku nggak bisa jalan2 lagi pa. Aku nggak punya waktu untuk itu semua. Aku nggak bakal bisa untuk itu semua pa. Susaah. Susaahh. Menderita pa. Trus forsir kerja tanpa liburan. Toh aku juga ntar dalam dunia kerja juga akan mengalami kompetisi itu. Papa jangan kuwatir. Semua itu ada masanya. Semua akan indah pada waktunya. Termasuk jiwa kompetisi itu pa. Akan terasa indah sewaktu kerja. Nyahoo lu jadi karyawan bawahan. Kompetisi ama bawahan lain untuk dapet posisi pas diatas.)

Percayalah. Semua itu cuma ada dalam hati aja. Nggak bakal bisa terucap dengan selugas disini. Wahaahhaa. Dasar ibu-ibu tukang gosip. Ngomongin orang aja dibelakang. ahahahaha.

Aku di treatment like a first child. Actually, i hate this pressing. But i have to enjoy this pressing.

Aku disuru cepet lulus untuk cepet dapet kerja enak. Jadi wanita karir.

Tapi sebenarnya papa tau nggak impianku?

Bukan. Bukan untuk jadi wanita karir pa.

Tapi jadi istri yg baik untuk suaminya. Itu profesi yang aku impikan pa. Karir adalah pekerjaan sampingan. Bukan pekerjaan utama pa.

Yaaaa. Aku sadar lah. Sejak kakakku nggak bisa memenuhi apa yg diinginkan beliau, aku mungkin yg diharapkan beliau jadi ini lah itu lah sesuai kemauannya. Tapi aku nggak bisa memenuhi kemauannya. Tapi aku ternyata dimatanya mendapat level mengecewakan.
Aku juga sadar. Apa yang dilakukan beliau ini sebenarnya untuk aku juga dimasadepan. Menurut beliau, kalo aku wanita dirumah tangga aja nggak punya pekerjaan itu cuma bisa memberatkan beban suami. Kalo aku wanita tapi punya pekerjaan paling nggak suami itu nggak menganggap rendah.
(mamaku juga sama berpikiran kayak gini.)

Yaaa kan aslinya papa itu menghawatirkan masa depanku. Bukan menghawatirkan apa-apa nya.
Itu juga untuk kebaikan di masa depanku.

Bagi mereka (kedua orangtuaku), jikalau mereka tua nanti, mereka tidak ingin mengganggu keuangan anak2nya kelak. Mereka ingin hidup tanpa membebani anaknya. Mereka juga tidak akan meminta2 sepeserpun hasil harta yang dihasilkan keringat anaknya sendiri. Bukan itu tujuan mereka menggembleng anak2 perempuannya ini supaya punya pekerjaan yg layak.

Bukan mempekerjakan kami kemudian menikmati hasil kerja kami.

Bukan. Sama sekali bukan itu.

Tapi tidak lain karena mereka ingin melihat anaknya bahagia, ingin melihat anaknya sukses melebihi kesuksesan beliau berdua.

Allahumagh firlii waliwallidaiya warhamhuma kama robbayaaanii soghiirooo.

Aaamiiinn..

Aaaamiinnn..

😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s