Birunya Ijen

Ternyata menulis itu seru. Hehehe. Jadi kepingin nulis lagi. Setelah trip ke Malang buat for her JP kali ini aku ngirim trip ke Ijen untuk for her JP juga. Kira-kira apa ya yg perlu diperbaiki dari tulisan ku yg kedua ini? Saraaaann plis🙂

Ijen Membiru, Napas Memburu

Pagi itu rasanya saya tak ingin berangkat. Bangun tidur rasanya malah ingin pulang saja. Padahal sore sebelumnya saya begitu semangat 45 untuk berangkat menuju Jember. Mungkin karena kesalahpahaman diantara saya dengan teman lain yang akan berangkat juga ke Jember membuat saya malas berangkat. Tapi, 1 jam berikutnya akhirnya saya memutuskan untuk berangkat.

Dengan sisa semangat yang ada siang itu, saya membersihkan diri kemudian mengisi perut kemudian saya bergegas mencari tunggangan, maksud saya, mencari seseorang yang bisa mengantarkan saya bersama teman saya ke Stasiun Gubeng Surabaya. Kami berniat naik KA Sri Tanjung jurusan Banyuwangi dan akan turun di Stasiun Jember.

Namanya juga kereta api ekonomi, kereta yang dijadwalkan pukul 14.00 tetapi baru akan berangkat satu jam berikutnya. Sebenarnya saya sudah biasa naik kereta ekonomi, tapi ini kereta ekonomi yang tidak biasa. Kereta ekonomi yang biasanya saya gunakan tidak sepenuh dan se”berjubel”an seperti KA Sri Tanjung. Kalo ada level dibawah ekonomi mungkin ini level dibawah level ekonomi. Tapi sepertinya bukan itu, KA Sri Tanjung ramai memang jurusan yang dituju diminati banyak penumpang. Dibanding kereta bisnis dan eksekutif yang sama jurusan Banyuwangi, KA Sri Tanjung ini sungguh sangat terjangkau bagi mereka yang akan bepergian bersama sanak saudara sekampung.

Hebohnya manusia-manusia yang berebutan di depan pintu KA untuk memasuki kereta itu nggak ada tandingannya. Kalo lihat orang antri zakat di televisi mungkin itu baru tandingannya. Penuh. Sesak. Berebut. Tapi pintunya hanya muat 1 orang. Jadilah sore itu saya pun terjepit dalam perjuangan bersama penumpang lain berebut masuk pintu KA. Tapi, entah menggunakan trik yang bagaimana, teman saya dapat dengan cepat sudah bertengger di dalam kereta dan mendapat tempat untuk duduk. Sebagai informasi saja, kereta ekonomi ini menyediakan tiket berdiri dan apabila ada nomer yang tertera di kereta ekonomi ini tidak bisa dibuat patokan untuk tempat kita akan duduk seperti kereta bisnis dan eksekutif. Jadilah akibatnya seperti ini, orang harus berebutan untuk mendapat tempat duduknya sendiri.

Sampai di Jember, kami dijemput seorang teman lain. Rencananya selama di Jember kami akan menginap dirumah seorang teman bernama Dhani dan yang akan pergi ke Ijen pada perjalanan kali ini saya bersama 5 orang teman lain yaitu, Rifki, Syarif, Wawwan, Aan.

Perjalanan ke Ijen dimulai esok harinya. Direncanakan pagi pukul 07.00 WIB untuk berangkat. Tapi kami akhirnya berangkat pukul 13.00 WDJ (waktu daerah Jember) dengan kata lain kami molor-semolornya. Hehehe. Ada aja yang bikin molor. Nunggu bangun. Nunggu mandi. Nunggu ada yang maen PS. Padahal waktu itu saya karena ada sesuatu yang harus diselesaikan jam 5 pagi baru tidur dan jam 7 pagi udah bangun lagi udah mandi tapi ternyata molor. Sambil nunggu molornya mereka saya pun sampai tertidur di depan televisi. Errr..

Perjalanan dimulai dengan bismillah. Dari Jember harus menuju kota Bondowoso terlebih dahulu untuk naik ke Ijen. Sampai di Bondowoso kami harus mencari spiritus untuk nanti masak-masak di Ijen karena ditakutkan selepas kota Bondowoso akan semakin sulit mencari spiritus. Setelah mendapat spiritus teman yang menyetir mobil harus memastikan terlebih dahulu jalan yang akan dilalui. Mengandalkan aplikasi maps yang ada di ponsel dan mengandalkan keberanian untuk bertanya pada yang tau jalan pun akhirnya kami semua dapat sampai di Ijen.

Jalan setelah pertigaan menuju Ijen jalan mulai tidak karuan. Lubang dimana-mana. Jalan tidak rata. Jalan naik turun berbelok tajam. Semakin jauh pun jalan bukan semakin baik tapi semakin tidak karuan. Lubang jalan semakin besar. Jalan semakin tidak ada yang bisa dipilih. Berada di jalur kanan atau di jalur kiri sama saja. Sama-sama berlubang, tidak rata. Wes pokoke jalanan itu watu gragal thok.

Mendekati paltuding atau tempat peristirahatan/pos terakhir sebelum naik ke kawah Ijen, kami mampir dulu ke sebuah sungai yang airnya sepertinya penuh dengan belerang. Warna airnya hijau kebiruan. Berbusa. Tapi dingin suhunya. Bau belerang pun sedikit menyengat disini.

Setelah puas di sungai yang saya anggap sungai belerang ini saya melanjutkan perjalanan ke paltuding. Ditengah perjalanan kami melihat ada dua orang yang berjalan dan sepertinya juga sedang menuju paltuding. Karena inisiatif seorang teman akhirnya kami pun setuju untuk memberikan tumpangan kepada dua orang ini. Setelah proses berkenalan dan ngobrol ngalor kidul kami mengetahui bahwa dua orang ini yang berasal dari Jogja dan mereka sudah berjalan lama sejak kampung terakhir sebelum paltuding. Karena mereka mengendarai kendaraan umum untuk menuju Ijen dan kendaraan umum tersebut tidak sampai di paltuding ternyata hanya sampai di kampung terakhir.

Sampai di paltuding saya pun mulai melihat sekitar. Tersedia beberapa rumah penginapan yang disewakan disana. Ada fasilitas mushola dan toilet dan ada beberapa warung kecil yang menjual makanan. Istirahat sejenak dan menghirup udara bersih yang pasti sangat jarang dijumpai di Surabaya. Semakin larut, udara semakin membuat badan menggigil. Brrrr.. Malam itu kami juga sempat menghabiskan waktu bermain kartu dan berbincang-bincang di sebuah warung kecil bersama pendaki lainnya. Pendaki ke Ijen ini tidak hanya berasal dari Indonesia. Ada yang berasal dari Singapura dan ada yang berasal dari Italia. Woww. Ternyata Ijen ini sudah terkenal ke mancanegara J . Satu hal yang membuat saya kagum lagi, keramah tamahan orang Indonesia. Entah perasaan saya saja atau bagaimana, tapi ketika saya bertemu dengan pendaki lain saya merasa seperti bertemu dengan saudara sendiri. Mereka bersedia berbagi apapun ketika berada di sana. Berbagi makanan, berbagi cerita, berbagi apapun yang bisa dibagi bahkan mereka ada yang merelakan tendanya digunakan oleh rombongan saya waktu itu.

Udara yang semakin dingin membuat saya tidak betah lama-lama ada diluar mobil. Setelah membuat mie instan untuk mengganjal perut malam ini saya langsung kabur ke dalam mobil dan tidak keluar-keluar lagi. Saya pun berusaha menghangatkan badan dengan cara apapun. Karena saya lupa membawa penutup telinga dan kaos kaki untuk melindungi tubuh dari serangan dingin. Ambil jaket itu, ambil selimut ini dan menekuk badan serapat mungkin agar tidak dingin. Sampai akhirnya saya pun tertidur.

Pukul dua dini hari saya pun dibangunkan oleh seorang teman. Kami merencanakan untuk naik Ijen pada dini hari agar ketika matahari terbit kami sudah berada di puncak dan dapat  menikmati keindahan yang lebih lagi. Keluar dari mobil, saya menatap langit dan saya senang sekali melihat langit dini hari itu. Bintang-bintang seperti pasir memenuhi langit, membentuk sungai di atas langit. Langit ini tidak akan bisa saya temui jika ada di Surabaya. Saya pun akhirnya menikmati kenidahan langit malam itu agak lama. Seperti meneliti satu-persatu bintang di atas sana melihat pola yang dibentuk oleh bintang. Subhanallah. Indah sekali ciptaan Tuhan yang satu ini.

Setelah selesai meminum sepanci kopi bersama rombongan akhirnya saya pun mulai perjalanan menuju Kawah ijen. Perjalanan ke Kawah Ijen memakan waktu 2,5 jam. Selama perjalanan pun bukan merupakan perjalan yang mulus. Baru 45 menit berjalan saya merasa sudah tidak sanggup lagi untuk meneruskan perjalanan. Udara menipis. Napas saya memburu. Malam itu saya merasa napas saya tidak ada yang sampai di paru-paru karena rasanya berat sekali untuk bernapas. Saya hampir saja menyerah karena saya merasa apabila saya meneruskan lebih jauh lagi mungkin saya akan susah kembali ke bawah apabila terjadi apa-apa pada saya di atas. Tapi agak lama beristirahat dan mendengarkan petuah dari seorang teman yang memang sering mendaki akhirnya saya pun mulai lambat-lambat berjalan dan meneruskan perjalanan. Ternyata benar, berjalan lebih lambat membuat saya lebih tenang, napas tidak lagi memburu dan saya optimis sekali untuk sampai di atas.

Sampai juga puncak Ijen. Tapi hari masih gelap. Saya belum bisa melihat Kawah Ijen dengan baik, masih tertutup awan. Begitu matahari terbit terlihatlah Kawah Ijen itu dengan aroma pekat belerang dan warna air yang hijau kebiruan. Beristirahat dan sambil menunggu 2 orang teman yang memutuskan untuk turun ke Kawah dan melihat para penambang belerang di dasar Kawah. Di dasar Kawah juga kata mereka dapat melihat api biru yang dihasilkan dari pembakaran belerang.

Selesai melihat api biru, beristirahat, saya dan beberapa orang teman memutuskan untuk melihat ke sisi yang lain. Katanya, ada puing-puing bangunan peninggalan Belanda di atas sana. Melihat sekitar seperti melihat dataran awan. Saya merasa berada di dunia di atas awan. Saya pun tidak henti-hentinya mengucap syukur melihat keindahan alam seperti ini. Sungguh benar-benar agung ciptaaan Tuhan.

Perjalanan turun kembali ke paltuding saya merasa lebih cepat dari perjalanan naik ke Kawah Ijen. Hanya 2 jam saja. Kami sudah sampai di paltuding. Selama perjalanan (naik/turun) pun saya menjumpai begitu banyak penambang belerang. Saya kagum dengan mereka. Jalan sejauh itu dan memanggul belerang yang mencapai 90-120 kg sekali angkat dan rata-rata usia penambang itu relatif tua. Sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna. Tapi saya kasihan melihat mereka. Usaha keras mereka hanya diupahi tidak sampai 100rb untuk sekali panggul belerang yang seberat itu..

Selesai berbenah barang kami akhirnya pulang kembali ke Jember dan rombongan kami bertambah menjadi 8 orang. Ada 2 orang turis Singapura yang ingin bareng pulang. Hohoho. Dalam perjalanan pulang kami memutuskan untuk mampir di pemandian air panas di daerah Ijen situ. Tapi ternyata sudah 30 menit berjalan kami tidak kunjung menemui pemandian tersebut. Apalagi jalan untuk menemukan pemandian itu buruk. Akhirnya kami pun memutuskan untuk langsung kembali saja ke Jember.

Perjalanan balik ke Jember sungguh menyiksa. Mata mengantuk tapi tidak bisa tidur. Badan juga rasanya remek. Eh, tapi ada saja gangguannya. Sesuatu terjadi pada mobil kami. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak lanjut ke Pantai Papuma tetapi kami melajukan mobil kami mencari bengkel yang masih buka sore itu. Mengingat hari itu hari Sabtu dan jarang sekali bengkel yang buka sore hari.

Selesai berbengkel kami pun akhirnya sampai dirumah dengan selamat. Saya langsung mencari kamar mandi untuk bersih diri dan langsung mencari kasur untuk beristirahat. Nice trip with you. All of you.

Photo by : @RifkiHandika

2 thoughts on “Birunya Ijen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s