Apa yg terbaik?

Hari ini entah sengaja atau tidak, saya belajar tentang sesuatu hal yg baik. Tentang pengambilan keputusan bagi diri sendiri. Hal yg berkenaan ttg diri sendiri bukan hal yg melibatkan orang lain.

Apa sih yg menurut kita itu hal yg baik bagi kita? Sebelum malam ini saya merasa hal yg baik itu jika org lain menilai kita baik maka diri kita telah melakukan yg baik.

Seperti halnya musik, menurut saya musik yg baik itu kalo orang lain juga suka. Tapiii, hey, musik itu selera. Satu orang suka blm tentu org lain suka. Bergantung pada lingkungan dong saya? Iya. Sebelumnya saya tergantung pada lingkungan. Apa yg lingkungan suka, saya suka. Tapi apakah seperti itu terus? Beberapa malam lalu saya memang seperti itu. Entah berpindahpindah berapa karakter saya. Saya hampir bersembunyi jika saya ketauan suka sebuah boyband. Ini saya. Tapi malam ini entah mengapa saya pikir boyband juga tidak buruk, mau mereka bilang apa juga. Saya masih menyukai lagunya. Tapi kenapa saya bersembunyi. Saya pikir diri saya harus memulai mengambil keputusan tanpa melibatkan keputusan lingkungan.

Lain hal lagi dengan selera fashion. Saya hampir tidak memiliki satu kiblat fashion yg pasti. Apa yg saya pakai itu ya apa yg saya nyamani. Tapi kadang saya tidak pernah memutuskan apa yg saya kenakan. Semua itu melihat salah seorang teman. Apa yg dikenakannya selalu cocok menurut saya. Tapi ketika saya membuatnya mirip saya terasa ini bukan saya. Tapi karena teman tadi memakainya dg bagus makanya saya ikutan. Tapi itu tidak cocok. Pada akhirnya saya harus memutuskan sendiri apa yg harus saya kenakan tanpa condong ke satu arah teman saya itu saja. Dan harus memiliki pertimbangan sendiri. Tanpa dibilang ohh kata teman ini bagus, kata teman itu bagus, oh kata ini bagus. Kenapa saya tidak bilang ini bagus menurut saya.

Satu lagi, dandanan. Aku selalu melihat orang itu dandanan nya bagus. Tapi sewaktu aku niru, pasti gak cocok di aku. Dari sini aku belajar, apa yg cocok di orang blm tentu cocok di aku. Selalu belajar sesuaikan apa yg akan dikenakan dibadan sendiri.

Malam ini rasanya jadi malam yg panjang buat saya. Saya merasa, keplinplanan saya menghasilkan saya yg tidak memiliki karakter sendiri. Saya kerap berubah-ubah tergantung lingkungan. Saya kerap memikirkan pendapat orang lain tanpa memperdulikan pendapat saya sendiri.

Saya sedih kadang-kadang. Dulu tapi. Saya sempat berpikir, saya udah mirip-miripin diri ama ini knapa masih gak disukai ini. Terus saya udah semiripmiripin diri ama ini, tapi knapa tetep aja ini gak suka. Yaah pemikiran kayak gitu yg bodoh yg selalu terlintas dalam diri saya.

Bodoh ya?
Tapi knapa sy sering nglakuinnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s