Sweet escape to Dieng Wonosobo.

Sabtu 9 Maret. Sebelum setiap senin dr senin minggu ini adalah ujian.

Let him go. It’s even more painful to ask him to stay if he never wanted to stay

Pergi ke Dieng. Perjalanan yang panjang dan melelahkan. Lelah bagi financial dan raga serta sukma. Hhhahahaha Bahasanya udah kayak Tutur Tinular versi Sebelum Masehi. Gimana nggak capek, duduk tegang selama perjalanan Jogja – Magelang – Temanggung – Wonosobo -Dieng. Tegang karena Limbong. Si Batak satu ini nyetirnya serem. Makanya nggak heran sopir metromini kebanyakan orang Batak. Kenceng bangeeet. Wuzzwuzz.

Dari Jogja jam 9 start dari Balai Diklat BPK RI jalan HOS Cokroaminoto, ke arah Magelang dan berhenti di Tape Ketan Muntilan. Temen-temen pada suka ama Tape Ketan. Pada belanja kayak setan. Belanja makanan nggak kira-kira. Termasuk yg lagi nulis ini. Hahahaha. Lanjut ke arah Temanggung. Selama perjalanan di Temanggung ada aja halangan, bensin tipis ehh malah kena polisi. Alasannya kami ngelanggar marka jalan. Apalah itu namanya intinya kami harus setor 100rb. Hahahaha.

Ngelewati Temanggung akhirnya kami berhenti di Alun-Alun Wonosobo. Di deket situ ada warung makan Bebek Kartosuro. Lupa ama kolesterol. Makan nggak kira-kira.

Lanjut ke Dieng, cuaca mulai nggak bersahabat. Hujan deras plus kabut. Banyak-banyak doa. Mana si Limbong nyetirnya makin bikin ser-ser-an. Aku jadi navigator disampingnya cuma bisa bilang ‘awas’. Tanpa ada komentar apa2 takut bikin dia bombe’ akhirnya gak mau nyetir. Hahahaha

(kika) Limbong Aku Aries Kanya Mian Kemas Wiko

Telaga warna Dieng. Telaga ini mengandung belerang. Makanya bisa jadi berwarna gitu. Yang diatas itu temen2 diklat di Jogja. Setelah puas foto2 di Telaga Warna akhirnya kami ngelanjutin perjalanan ke Kawah sikidang. Di kawah ini mirip banget sama lumpur lapindo. Air belerang nya meletup2 muncrat ke permukaan.

image
kawah sikidang

Setelah dari Kawah Sikidang kami lanjutkan perjalanan ke komplek Candi Arjuna. Nggak ada yg bisa aku jelasin dari sini karena aku tau nilai sejarah ku hanya cukup untuk lewat pelajaran sejarah gak pake remedi. Itu aja nilai rerata bawah. Hahahaha

Setelah abis semua wisata Dieng, sepulangnya udah makin ser2an. Limbong nyetirnya makin brutal. Sampe di Wonosobo kami ngerasakan kuliner khas sana. mie Ongklok. Kayak apa mie Ongklok? Yaaa kayak mie Ongklok.

mie ongklok

Enak disajikan selagi hangat. Bersama teh hangat dan tempe mendoan dan sate sapi. Yuuuummmm :9

Kenyang. Malam. Dingin. Perpaduan pas untuk tidur. Tapi karena aku masih aja tegang. Akhirnya gak bsa tidur. Menyiasati itu, biar Limbong ada temen juga akhirnya mainlah kami disuatu permainan bukan makan beling tapi tebak2an geje ala anak SMA bukan ababil. Catet! Bukan Ababil!

Selesailah pelarian termanis bersama mereka ke Dieng. Karena move on dari akuntansi itu susah Jenderal !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s